Inflasi rupiah adalah alasan kenapa uangmu terasa makin tidak cukup, padahal jumlahnya sama. Harga makan, bensin, dan sewa naik dari tahun ke tahun, sementara uang yang kamu simpan diam di rekening. Di artikel ini kamu belajar apa itu inflasi, dari mana asalnya, bagaimana sejarah inflasi rupiah, berapa besar dampaknya pada tabunganmu, dan kenapa banyak orang mulai menabung di Bitcoin.
Apa itu inflasi, dengan bahasa sederhana?
Inflasi adalah naiknya harga barang dan jasa secara umum dari waktu ke waktu. Cara lain melihatnya: inflasi adalah turunnya daya beli uang. Dengan Rp100.000 hari ini, kamu bisa membeli lebih sedikit barang dibandingkan beberapa tahun lalu.
Di Indonesia, inflasi diukur oleh BPS dari perubahan harga sekumpulan barang dan jasa yang biasa dibeli rumah tangga. Bank Indonesia menetapkan target inflasi, dan untuk beberapa tahun terakhir targetnya 2,5% plus minus 1% per tahun. Artinya, bahkan saat semuanya berjalan sesuai rencana, harga tetap diharapkan naik setiap tahun.
Dari mana inflasi datang?
Ada banyak penyebab inflasi, misalnya harga bahan bakar naik atau panen gagal. Tapi dalam jangka panjang, penyebab utamanya adalah jumlah uang yang terus bertambah. Kalau jumlah uang bertambah lebih cepat daripada jumlah barang, setiap rupiah nilainya makin kecil. Penjelasan lengkapnya ada di Pencetakan Uang: Jalan Menuju Inflasi.
Sejak 1971, saat dolar AS tidak lagi bisa ditukar dengan emas, hampir semua uang di dunia adalah uang kertas yang jumlahnya bisa ditambah tanpa batas. Ceritanya ada di WTF Terjadi pada Tahun 1971?
[VIDEO: Inflasi rupiah: kenapa uangmu makin tidak cukup]Sejarah inflasi rupiah
Rupiah punya sejarah inflasi yang berat. Dua contoh yang paling terkenal:
- Tahun 1960-an. Inflasi mencapai ratusan persen per tahun. Pada akhir 1965 pemerintah melakukan redenominasi: 1.000 rupiah lama ditukar menjadi 1 rupiah baru.
- Krisis moneter 1998. Nilai rupiah anjlok dari sekitar Rp2.400 per dolar AS pada pertengahan 1997 menjadi lebih dari Rp15.000 pada puncak krisis tahun 1998. Inflasi tahun 1998 lebih dari 70%. Banyak keluarga kehilangan sebagian besar tabungannya dalam waktu singkat.
Sejarah lengkapnya bisa kamu baca di Perjalanan Panjang: Sejarah Uang Indonesia.
Berapa besar dampak inflasi pada tabunganmu?
Inflasi terasa kecil kalau dilihat per tahun, tapi besar kalau dilihat dalam waktu lama. Contoh hitungan sederhana:
- Dengan inflasi 3% per tahun, daya beli Rp1.000.000 setelah 10 tahun tinggal setara sekitar Rp744.000 hari ini.
- Dengan inflasi 5% per tahun, daya belinya tinggal setara sekitar Rp614.000.
Jadi tabungan yang “aman” di rekening bisa diam-diam kehilangan seperempat sampai sepertiga daya belinya dalam sepuluh tahun. Bunga tabungan biasa sering tidak cukup untuk menutupnya, apalagi setelah dipotong pajak dan biaya administrasi. Mau menghitung dengan angkamu sendiri? Coba kalkulator gratis di inflasi.bitcoinindonesia.xyz.
Siapa yang paling dirugikan inflasi?
Inflasi tidak terasa sama untuk semua orang. Yang paling dirugikan biasanya:
- Orang yang menyimpan uang tunai atau di tabungan biasa.
- Pekerja dengan gaji tetap yang naiknya lebih lambat dari harga.
- Pensiunan yang hidup dari tabungan.
Sementara itu, pihak yang pertama menerima uang baru, misalnya pemerintah dan bank, bisa memakainya sebelum harga naik. Ketimpangan ini salah satu alasan banyak orang mencari cara menabung yang lain.
Apa hubungannya dengan Bitcoin?
Bitcoin dirancang dengan jumlah tetap: tidak akan pernah lebih dari 21 juta bitcoin. Tidak ada bank sentral atau pemerintah yang bisa mencetak bitcoin baru di luar aturan itu. Karena itu banyak orang memakai Bitcoin untuk menabung. Kami menyebutnya: nabung di uang yang nggak bisa dicetak.
Tapi jujur saja: harga Bitcoin dalam rupiah naik turun sangat tajam, kadang dalam hitungan hari. Bitcoin cocok untuk tabungan jangka panjang yang tidak kamu butuhkan dalam waktu dekat, bukan untuk uang dapur bulan depan. Mulai kecil, belajar dulu, dan simpan Bitcoin-mu di dompet sendiri. Panduannya ada di Mengamankan Bitcoinmu.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Kenapa inflasi yang aku rasakan lebih tinggi dari angka resmi?
Angka resmi adalah rata-rata dari banyak barang dan jasa. Pengeluaranmu bisa berbeda. Kalau sebagian besar uangmu habis untuk makanan, sewa, atau biaya sekolah, dan justru harga barang-barang itu yang naik paling cepat, inflasi yang kamu rasakan bisa lebih tinggi dari rata-rata.
Bagaimana cara mengukur inflasi pribadiku?
Catat harga 10 barang yang paling sering kamu beli, misalnya beras, minyak goreng, telur, bensin, dan pulsa. Catat lagi tahun depan di tempat yang sama. Selisihnya adalah gambaran inflasi pribadimu. Cara sederhana ini sering membuka mata.
Ringkasan
- Inflasi adalah turunnya daya beli uang. Target Bank Indonesia pun mengharapkan harga naik setiap tahun.
- Penyebab jangka panjangnya adalah jumlah uang yang terus bertambah.
- Rupiah pernah mengalami inflasi sangat tinggi, seperti di tahun 1960-an dan krisis 1998.
- Dalam 10 tahun, inflasi 3 sampai 5% bisa menggerus seperempat sampai sepertiga daya beli tabunganmu.
- Bitcoin punya jumlah tetap 21 juta, tapi harganya bergejolak. Pakai untuk tabungan jangka panjang dan pelajari dulu.
Belajar melindungi tabunganmu, gratis
Ingin memahami uang, inflasi, dan Bitcoin dari dasar? Ikut kelas gratis Diploma My First Bitcoin dalam Bahasa Indonesia. Atau datang ke meetup komunitas dan ngobrol langsung soal inflasi dan menabung. Meetup diadakan gratis setiap bulan di lebih dari 40 kota. Cari meetup terdekat di sini.




